Eko Prasetyo

Motonya: "Di dalam kesulitan selalu ada kemudahan" yang dinukil dari Alquran....

Selengkapnya
Epilepsi di Pesawat      
Insiden di pesawat Lion Air JT-948 KNO-BTH pada 28 April lalu. (Dok. Eko Prasetyo)

Epilepsi di Pesawat    

Usai kegiatan di Kota Stabat, Kabupaten Langkat, pada 28 April lalu, saya pulang ke Surabaya dari Bandara Kualanamu, Deli Serdang. Pesawat Lion Air JT-948 ini dijadwalkan transit terlebih dulu di Batam sebelum melanjutkan penerbangan ke Surabaya. Cerita itu dimulai di sini.

Penerbangan ke Batam tertunda tiga jam lebih. Bagi saya, penundaan terbang (delayed) itu berkah. Sebab, saya bisa beristirahat, jalan-jalan menikmati Bandara Kualanamu yang megah, atau sekadar membaca majalah yang saya bawa. Tak perlu marah-marah, apalagi menghardik petugas Lion Air. Buat apa? Marah-marah tidak akan membuat pesawat terbang lebih awal. Iya, kan?

Lagi pula, jika ada orang yang kesal karena mengalami penundaan terbang Lion Air, ini berarti dia tidak memahami makna Lion. Bagi pelanggan transportasi udara, kependekan LION dipelesetkan menjadi Late is Our Nature.

Ketika pesawat menuju Batam, sebuah insiden terjadi. Saya duduk di kursi 16C. Nah, seorang penumpang di kursi 16E tiba-tiba mengalami kejang. Penumpang di sebelahnya langsung berteriak histeris. Ia memanggil pramugari. Mulut penumpang di 16E tersebut mengeluarkan busa dan air liur. Ia langsung jatuh. Diduga ia mengalami ayan atau epilepsi.

Sontak, seisi pesawat panik. Lewat pengeras suara, kru kabin bertanya adakah penumpang yang merupakan dokter. Lalu seorang laki-laki paro baya datang dari bangku belakang. Ia mengaku dokter dan lantas bersiap memberikan pertolongan.

Suasana kian mencekam karena beberapa saat kemudian pesawat akan mendarat di Bandara Hang Nadhim, Batam. Jadi, pertolongan harus cepat diberikan agar penumpang tadi sadar.

Sang dokter meminta saya dan seorang pramugari untuk membantu mengangkat penumpang yang terjatuh itu. Mengembalikan posisi duduknya untuk kemudian ditangani secara medis. Alhamdulillah penumpang di 16E itu tersadar setelah ditangani Pak Dokter tadi.

Ada pelajaran yang bisa saya ambil hari itu. Jika ada penumpang yang mengalami epilepsi, kita tidak perlu panik sehingga membuat penumpang lainnya ikut panik. Tetap tenang dan segera panggil kru kabin yang sedang bertugas. Jika membawa minyak kayu putih, balurkan ke tubuh si sakit hingga ia merasa nyaman, jangan dibalurkan ke pramugarinya ya. Apabila bingung, carilah penumpang yang berprofesi sebagai dokter untuk memberikan pertolongan pertama. Yang terpenting sekali lagi adalah tetap tenang. Kita tak perlu panik apabila ada penumpang Lion Air yang mengalami epilepsi jika sedang naik Citilink.

Castralokananta, 1 Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Pesawat ,yes! Salam.mas.

01 May
Balas

Kota Batang di dadaku. Yes, yes, yes!

01 May

Late is our nature slogan baru ya? Top mas Eko!

01 May
Balas

Slogan lama, Ndan. Salam kangen

01 May

Barokallah, kalau yang epilepsi pamugarinya wah berabe?

01 May
Balas

Sah

01 May

Gak kebayang ekspresi pramugarinya saat dibaluri minyak kayu putih.... sukses dan sehat selalu Mas Eko.

01 May
Balas

Wkwkwk... Salam sehat Bu. Salam hormat

01 May

Pengen banget, naik pesawat Garuda, tapi dilayani oleh pramugari Batik Air. Salam Literasi.

01 May
Balas

Cihuuuyyy

01 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali