Eko Prasetyo

Motonya: "Di dalam kesulitan selalu ada kemudahan" yang dinukil dari Alquran....

Selengkapnya
Inemuri
Sumber: Hipwee

Inemuri

Juli tahun silam, saya menemani CEO MediaGuru Mohammad Ihsan dalam lawatan di Jepang. Suatu malam saya keluar dari hotel di Tokyo untuk sekadar berjalan-jalan. Ada pemandangan yang saya anggap ganjil waktu itu, yakni keberadaan orang yang tertidur di jalanan dan fasilitas umum.

Mereka rata-rata pegawai kantoran hingga anak muda yang berpenampilan trendi. Jam di tangan saya saat itu menunjukkan sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Tapi, masih banyak orang yang berlalu-lalang.

Di sudut-sudut tertentu, kita bisa menemukan pegawai kantor yang tidur bebas. Posenya bermacam-macam. Mulanya saya anggap aneh. Tapi, saat membaca artikel di VICE edisi April lalu, saya akhirnya mafhum. Artikel ini memuat wawancara dengan Pawel Jaszczuk, fotografer Polandia yang telah lama bermukim di Tokyo.

Ia menerbitkan seri foto tentang cara tidur orang Jepang yang tak lazim tersebut. Ia mengkhawatirkan hal itu dengan budaya gila kerja di Negeri Sakura.

Di Jepang, ternyata kondisi ini bersentuhan dengan tradisi mereka. Budaya tidur yang aneh dan unik itu dikenal dengan sebutan inemuri yang bermakna tidur sejenak. Inemuri sangat dihormati di Jepang karena dianggap sebagai bentuk pengabdian dan loyalitas atas pekerjaan. Karena itu, jika ada orang yang tertidur (inemuri) di fasilitas publik atau tempat umum, tak ada yang berani membangunkannya.

Dalam buku Japan Beyond Tokyo (2017: 257), saya temukan fakta bahwa rata-rata jam kerja orang Jepang itu 2450 jam per tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika (1950 jam kerja/tahun), Inggris, (1911 jam kerja/tahun) dan Jerman (1870 jam kerja/tahun).

Maka, bersyukurlah kita hidup di Indonesia yang ritme kerjanya tidak segila di Negeri Matahari Terbit tersebut. Memang sih kita bisa saja melakukan inemuri di mana saja setelah lembur. Misalnya di tepi jalan umum atau taman. Tapi, setelah itu bersiaplah menerima fakta bahwa kita akan kehilangan benda-benda milik pribadi. Yang tidak hilang cuma daleman yang kita pakai.

Castralokananta, 5 Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Inemuri menarik juga yah

06 May
Balas

Inemuri menarik juga yah

06 May
Balas

Iya Bu, hehehe

08 May

Hah...daleman lagi...daleman lagi. Apa gak ada yang luaran ?Hehe...terimakasih untuk sesuatu yang baru kuketahui ini. Salam sehat, sukses dan bahagia selalu

05 May
Balas

Siap Bund... Salam hormat.

05 May

Inemuri... inemuri... sampai segitunya.. makasih pak Eko , tambah kosakata... barakallah..

05 May
Balas

Iya Bu, begitulah potret lain di Jepang... Enak di Indonesia

05 May

Inemuri, aneh juga ya pak!. Pernah kah pak eko nyoba di sana? Mumpung di jepang Hehe...

05 May
Balas

Iya Bu, saya coba di hotel..hehehe

05 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali