Eko Prasetyo

Motonya: "Di dalam kesulitan selalu ada kemudahan" yang dinukil dari Alquran....

Selengkapnya
Letjen (purn) Kemal Idris   
Sumber: wikipedia

Letjen (purn) Kemal Idris  

Sosok ini dikenal sebagai soldier-warrior (prajurit pejuang), bukan soldier-thinker (prajurit pemikir). Namanya Kemal Idris, tokoh penting dalam pergerakan revolusi Indonesia.

Menurut wartawan senior Rosihan Anwar, Kemal Idris benar-benar komandan di lapangan, panglima yang memimpin pasukannya. Ia bukan tipe perwira staf yang duduk di belakang meja untuk merancang dan mengelola. Kemal asli Minang, suku bangsa yang menurut tradisi tidak suka jadi serdadu. Berbeda dengan etnis lainnya seperti Jawa, Maluku, dan Minahasa yang pada zaman penjajahan Hindia Belanda merupakan sumber rekrutmen untuk tentara KNIL.

Sore ini saya membaca buku memoar Kemal Idris yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan pada 1996. Buku yang diberi judul Bertarung dalam Revolusi ini merupakan sumbangsih yang sangat penting bagi Indonesia. Saya melihat gaya yang berbeda di buku ini dibandingkan buku-buku memoar lainnya.

Di situ Kemal betul-betul blak-blakan membuka tabir sejarah perjalanan Indonesia. Pribadinya yang meledak-ledak betul-betul terlihat di sini tanpa ditutup-tutupi. Pengalamannya memimpin Batalyon 2 Kala Hitam dari Divisi Siliwangi saat menumpas pemberontakan PKI Madiun benar-benar menarik.

Tapi, saya lebih menaruh respek atas kejujuran Kemal ketika terlibat dalam peristiwa 17 Oktober 1952 (sebuah peristiwa terkenal di lingkungan militer). Ia mendukung A.H. Nasution saat melayangkan protes kepada Bung Karno atas situasi politik kala itu. Peristiwa ini dikenal dengan momen ketika Kemal dan pasukannya mengarahkan meriam ke arah istana karena Bung Karno dianggap sibuk dengan urusan politik dan mengabaikan ekonomi bangsa.

Karena keterlibatan ini, nasib Kemal sebagai prajurit betul-betul ”terlunta” dan tidak jelas. Keberadaannya seakan sama dengan ketidakberadaannya. Ia diberi meja, tapi tidak diberi tugas pekerjaan.

Di buku ini pula dijelaskan bahwa Kemal Idris bersama Kolonel Zulkilfi Lubis (sesepuh intelijen militer) dan Kolonel Simbolon pernah terang-terangan anti-Nasution. Kemal yang dekat dengan Jenderal Soeharto dan turut mendukung Orde Baru justru menemui kenyataan lain. Sisi manusiawinya diperlihatkan ketika Kemal yang kecewa lantaran Jenderal H.R. Dharsono yang gigih memperjuangkan Soeharto menjadi presiden malah di kemudian hari dibiarkan meringkuk di penjara (karena terlibat Petisi 50).

Sebenarnya, tidak hanya isi buku ini yang membuat saya jatuh cinta. Tujuan penulisan buku inilah yang bikin saya kagum. Jenderal Kemal Idris mengatakan bahwa buku memoar ini dipersembahkan secara khusus kepada istrinya, Herwinur Bandiani Singgih. Ya, buku ini merupakan kado ulang tahun ke-50 perkawinan mereka.

Di antara banyak buku biografi dan memoar tokoh militer yang saya baca, buku begitu membekas di hati sanubari saya. Begitu jujur, begitu lugas, dan begitu manusiawi.

Castralokananta, 23 Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

sebuah prinsip hidup. OK Mas

23 May
Balas

YeS Sir

23 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali