Eko Prasetyo

Motonya: "Di dalam kesulitan selalu ada kemudahan" yang dinukil dari Alquran....

Selengkapnya
Mabuk Laut   

Mabuk Laut  

Pada musim haji seperti sekarang, saya sungguh menaruh respek dan hormat kepada orang-orang Indonesia pada masa kolonial dahulu. Sebab, mereka berhaji ketika pesawat terbang belum ada. Ya, mereka naik kapal laut demi bisa menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Dari beberapa literatur lama yang saya baca, salah satu tantangan berhaji pada saat itu adalah lamanya perjalanan. Jika sekarang sembilan jam bisa ditempuh dengan penerbangan dari Jakarta ke Jeddah atau Madinah, tidak demikian dengan kapal laut. Apalagi, kapal pada saat itu tidak seperti kapal modern sekarang yang sistem navigasi dan kecepatannya sudah sangat maju. Perjalanan ke Tanah Suci bisa ditempuh berminggu-minggu dari Hindia Belanda (nama lama Indonesia) ke Tanah Suci.

Lazimnya perjalanan jauh dengan kapal laut, salah satu yang sangat mungkin dialami adalah mabuk laut. Saat berlayar ke Jayapura, seorang teman saya pernah muntah kuning. Yaitu cairan terakhir yang ada di perut. Semua makanan dimuntahkan. Setelah semuanya keluar, giliran muntah kuning itu tadi yang keluar. Saat itu ombak sedang tinggi-tingginya.

Saya agak trauma naik kapal laut karena pernah melihat langsung saat ombak sedang mengamuk dan memamerkan keperkasaannya. Rasanya seperti hidup dan mati. Muntah pun tak terhindarkan. Jauh lebih ngeri dibandingkan saat saya mengalami turbulensi hebat dalam penerbangan dari Pekanbaru ke Jakarta pada 17 Maret silam.

Apa hikmah dan pelajarannya? Kita laksana buih di tengah samudra luas. Jika ada kesempatan, coba lakukan perjalanan dengan kapal laut semisal menyeberang dengan kapal feri dari Merak ke Bakaheuni atau dari Banyuwangi ke Bali atau dari Bali ke Lombok. Jika beruntung, Anda akan mengalami sensasi terkena deburan ombak setinggi dua atau tiga meter. Di situlah kita bisa melihat kebesaran Allah.

Lantas, bagaimana agar bisa terhindari dari mabuk laut? Seorang kawan saya dari TNI AL mengatakan, biasanya para pelaut memakan biskuit gabin untuk mengantisipasi mabuk laut. Entah terbukti atau tidak, saya belum pernah mempraktikkannya. Yang jelas, Anda tidak perlu khawatir mabuk laut jika sedang naik mobil atau menumpang pesawat terbang. Barakallah….

Castralokananta, 9 Juli 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mabuk.... Bisa terjadi dimana tempat. Siapkan antimo. OK Mas.

09 Jul
Balas

Siapkan energi untuk menulis di Gurusiana, Pak. Yes oke..

10 Jul

Saya paling setuju dengan paragraf terakhir. Saya kira pasti itu intinya. He..he..he.

09 Jul
Balas

Alhamdulillah yaa Rabb

09 Jul

Nyaris mabuk laut saat pertama kali naik jetfoil dari Merak ke Bakauheni. Tp sungguh tidak kapok. Karena waktu tempuh jetfoil lbh cepat daripada kapal ferry. Mabuk laut berakhir indah jika sudah sampai tujuan. Mari mabuk laut. Salam angin laut pa Eko.

09 Jul
Balas

Mantap Bu Ratih. Salam hormat.

09 Jul

Ending- nya mengingatkan ketika pertama kali mengikuti kelas menulis MediaGuru dengan Mas Eko. Ngangeni

09 Jul
Balas

Laa hawla walaa quwwata illabillah

10 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali