Eko Prasetyo

Motonya: "Di dalam kesulitan selalu ada kemudahan" yang dinukil dari Alquran....

Selengkapnya

Menghargai  

Menghargai orang lain itu penting. Termasuk menghargai perbedaan.

Saat ini iklim politik Indonesia memanas karena terpengaruh suasana pemilu serentak. Hubungan pertemanan bisa rusak hanya lantaran beda pilihan calon presiden.

Berita yang belum tentu valid saja bisa diunggah untuk membenarkan sebuah pendapat pribadi. Saling serang, saling sindir, dan saling berkomentar miring mewarnai jagat maya (baca: media sosial).

Masyarakat pun dibuat bingung karena media pun kini sukar dipercaya. Tak sedikit media arus utama (mainstream) yang justru dijadikan alat politik bagi pemiliknya. Independensi yang melekat pada media saat ini bak angina lalu. Diyakini atau tidak, tak sedikit media yang mencederai prinsip kerja jurnalistik yang semestinya netral.

Mungkin pengalaman saya berikut ini bisa diambil hikmahnya. Saat berada di Rembang, saya hendak pulang ke Surabaya dengan menumpang kereta api dari Stasiun Cepu. Saya memilih ke Cepu karena jaraknya dari Rembang relatif lebih dekat ketimbang saya harus naik di Stasiun Semarang Tawang.

Saya menumpang taksi daring ke Cepu. Sopirnya bernama Pak Ari, seorang keturunan Tionghoa asli Lasem. Memang Lasem sudah lama dikenal sebagai The Little Tiongkok (Tiongkok Kecil) di Indonesia. Masyarakat di Lasem, Kabupaten Rembang, dikenal memiliki toleransi tinggi. Pernikahan Jawa dan Tionghoa pun sudah lama ada di sana. Pak Ari ini salah satu keturunan Jawa-Tionghoa.

Di sepanjang perjalanan, pria mengaku penganut Buddha tersebut berharap Indonesia selalu aman dan sejahtera. ”Ya seperti di Rembang dan Lasem ini yang selalu damai,” tuturnya. Sebagaimana harapan warga Rembang pada umumnya, semuanya tak menginginkan perpecahan hanya karena masalah pilpres ini.

Saya memahami harapan itu. Wajar. Saya berprinsip, pilihan dan haluan politik pribadi itu tak perlu digembar-gemborkan sehingga rawan menimbulkan perselisihan dan debat kusir. Yang lebih tidak enak, kita bisa kehilangan teman ngopi hanya karena berbeda pilihan capres.

Maka, harapan Pak Ari tentu juga menjadi harapan saya. Ia bercerita panjang lebar sampai Kota Cepu. Hingga akhirnya saya shock berat saat ia mengaku baru saja terkena serangan stroke. ”Untungnya, kita selamat ya Pak,” jawabnya singkat yang membuat wajah saya seketika pucat.

Sidoarjo, 15 April 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

iklim tropis. Salam Yes !! Mas

15 Apr
Balas

Siap Ndan

15 Apr

Kok ending begitu? Mas Eko...mas Eko....wk....wk....wk.

15 Apr
Balas

Parah lagi kalau perbedaan pilihan terjadi pada suami-istri. Apakah salah satu atau dua harus kehilangan ? Hehe..salam sukses Mas Eko

15 Apr
Balas

Harus damai Bu, hehehe. Kalau enggak, ndak dapet jatah dong

15 Apr

Pilihan boleh beda, terpenting MediaGuru tetap di hati . Bravo

15 Apr
Balas

Makasih Buk

15 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali