Eko Prasetyo

Motonya: "Di dalam kesulitan selalu ada kemudahan" yang dinukil dari Alquran....

Selengkapnya
Rokok

Rokok

Tahukah Anda mengapa tidak ada pramugari yang berusia 67 tahun? Jika tahu, ya sudah. Sebab, saya memang tidak hendak membahas itu.

Sekarang coba perhatikan bahwa pemilik Sampoerna, Djarum, dan Gudang Garam itu masuk daftar orang terkaya Indonesia. Poinnya bukan di sini, melainkan fakta bahwa bos besar perusahaan rokok itu tidak merokok. Contohnya, pemilik PT Gudang Garam Susilo Wonowidjojo. Yos Adiguna, Direktur PT HM Sampoerna, juga terang-terangan mengaku bukan perokok.

Ketika saya masih kuliah di IKIP Surabaya, ada pabrik rokok masyhur di Tulungagung. Benar, namanya Retjo Pentung. Rokok ini amat familier di kalangan masyarakat petani dan pedesaan. Kalau tidak keliru, harganya waktu itu masih sekitar Rp500 sebungkus.

Ceritanya bukan itu, tetapi fakta bahwa istri, ibu mertua, dan nenek pemilik Retjo Pentung itu ternyata tidak merokok. Eh maaf maksudnya, bos pabrik tersebut konon juga tidak merokok.

Terkait rokok-merokok ini, semalam saya sedih sekali ketika menonton tayangan almarhum Sutopo Purwo Nugroho, humas BNPB. Ia mengatakan punya gaya hidup sehat. "Saya berolahraga dan makan sayur serta buah," ujarnya dalam sebuah adegan.

Karena it, ia kaget dan amat terguncang saat divonis mengidap kanker paru stadium tinggi. Ternyata, Sutopo mengatakan bahwa ia bekerja di lingkungan para perokok. Ditambahkan bahwa perokok pasif berisiko empat kali lipat terkena kanker paru ketimbang perokok aktif.

Saya akhirnya mafhum mengapa para bos perusahaan rokok itu tidak merokok. Penjelasan gamblang diutarakan pemilik PT Gudang Garam. Ia mengaku tidak merokok karena sudah jelas bahwa merokok itu berpotensi "membunuh" pengisapnya.

Ini malah ada informasi yang entah benar atau tidak. Konon bos Gudang Garam pernah ditanya mengapa membuka pabrik rokok walau dirinya tidak merokok. Apa jawabannya? "Rokok itu dibikin untuk orang-orang yang nggak bisa baca saja!"

Sekali lagi, ucapan bos Gudang Garam tersebut benar terjadi atau tidak, yang jelas kita sudah mendapat fakta bahwa bos-bos perusahaan rokok itu justru bukan perokok aktif. Mereka juga sadar bahwa merokok itu sangat tidak menyehatkan.

Di MediaGuru, saya dan Pak Ihsan (CEO MediaGuru) juga bukan perokok. Ketika ada teman yang merokok, biasanya ia sadar dan menjauh atau merokok di tempat yang jauh dari tempat duduk kami.

Walaupun demikian, saya juga tidak bisa menampik fakta bahwa merokok tidak akan menyebabkan sakit jantung, impotensi, dan kanker jika tidak pernah sulut. Lantas, apa solusi bagi perokok yang ingin berhenti merokok? Menurut saya, cobalah bakar rokok itu secara terbalik, yakni ujung gabusnya yang disulut. Kalau tidak mempan, coba ujung rokok diikat dengan dinamit.

Malang, 11 Juli 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Nafasnya dua tak. Oli sampingya evalube. Sip ... Mas.

12 Jul
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali