Eko Prasetyo

Motonya: "Di dalam kesulitan selalu ada kemudahan" yang dinukil dari Alquran....

Selengkapnya
Senjakala Agen Koran
Sumber: mharis[dot]blogspot[dot]com

Senjakala Agen Koran

Pesona koran cetak benar-benar mulai pudar. Sehari sebelum terbang ke Pekanbaru ini, saya melihat kelesuan itu.

Salah satu agen koran langganan saya di dekat Stadion Delta Sidoarjo, misalnya, sudah gulung tikar. Dulu, beberapa tahun silam, dia benar-benar jaya. Jika kebetulan ada tulisan saya di koran tertentu, biasanya dia menjadi jujukan saya. Beli ecer.

Di tempat itu pula, dulu banyak loper koran menggantungkan hidup. Pagi-pagi buta mereka nongkrong di agen tersebut. Kemudian pergi menembus gelap subuh ke rumah para pelanggannya. Bersepeda onthel.

Kini semua tinggal kenangan. Bahkan, lapaknya pun sudah tidak berbekas. Pemandangan serupa saya lihat di kawasan Ketintang, Surabaya. Dekat kampus tempat saya belajar.

Tak terlihat lagi deretan koran cetak yang terpajang rapi. Tak ada gurau tawa para loper koran yang menyambangi. Kini tempat itu berganti menjadi toko kelontong. Menjual barang kebutuhan sehari-hari seperti sembako dan pulsa.

Di Jalan Raya Darmo, Surabaya, tak jauh dari Taman Bungkul, hal senada terasa. Tak ada bakul kopi jalanan seperti belasan tahun lalu. Tempat para loper mengudap segelas plastik kopi sembari menunggu tugas mengantar koran ke tuannya. Hilang tinggal kenangan.

Beberapa memang masih bertahan. Namun, mereka tak lagi menjadi agen atau distributor koran. Hanya jual eceran. Itu pun sekadarnya. Tak lagi menjadi yang utama. Aneka minuman, makanan, dan pulsa menjadi pemasukan utama. Sementara jika ada satu atau dua koran terbeli, tentu pemasukannya tak seberapa.

Koran tak lagi menjadi primadona. Teman minum ngopi sebelum berangkat kerja. Atau mitra bersantai sembari mendengarkan kicau perkutut. Semua sudah berlalu. Koran kini menemui senjakalanya. Digerus zaman.

Saya pulang. Membuka kembali arsip-arsip lama. Membaca kliping koran. Sekadar bernostalgia. Mengudap kenangan yang mungkin tak akan pernah kembali lagi.

Bandara Sultan Syarif Qasim II, 15 Maret 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Di Gunungkidul agen masih eksis Mas. Salam sukses.

15 Mar
Balas

Alhamdulillah... Senang mendengarnya, Pak

15 Mar

yes,Mas.!

15 Mar

Boleh jadi koran edisi terakhir menjadi barang mahal yang diburu kolektor.

15 Mar
Balas

Iya Pak. Itu sudah terjadi sebenarnya. Di Jogja. ada kolektor berburu koran cetak yang terbit tahun 2000-an. Senjakala koran mulai terlihat... Salam hormat

15 Mar

Semua ada masanya. Dulu ada sekarang tidak ada. Seperti diri kita, ada masanya ada dan saatnya nanti tidak ada. Jagad raya sekarang ada, saatnya nanti tidak ada. Hik..hik... Salam Literasi.

15 Mar
Balas

Berarti koran terkena imbas revolusi industri 4.0 juga ya Pak? Jadi ingat, walau saya bukan penggemar Darwin, tetapi mungkin salah satu teori Darwin ada benarnya juga. Bukan teori yang bahwa nenek moyang manusia dahulu adalah kera lho. Tetapi teori bahwa dalam revolusi dan evolusi makhluk hidup ada yang namanya seleksi alam, dan yang bisa bertahan hidup dan terus berkembang adalah yang bisa beradaptasi dengan lingkungan dan zaman, walau dalam teori ini juga masih dipertanyakan benar tidaknya proses evolusinya. Tetapi yang bisa kita ambil contoh adalah bisnis bisnis "besar" yang mulai gulung tikar seperti beberapa mall yang dulu cukup laris manis. Jika tak ada inovasi dari mall tersebut, bisa dipastikan lambat laun mall tersebut akan sepi ditinggal peminatnya karena beralih ke olshop. Terkecuali, beberapa mall yang malah tambah eksis karena menggabungkan sistem perbelanjaan dengan tempat bermain, bioskop, bahkan wisata edukasi lain. Tak terkecuali dengan koran. Dahulu kala, sewaktu saya masih kecil hampir selalu menjumpai koran di mana mana. Tetapi sekarang, seperti tulisan pak Eko, koranpun sudah mulai masuk senjakala, jika tak ada yang bisa berinovasi dalam bidang media koran, entah menambah banyak kuis berhadiah atau promosi gratis misalnya. Ya mungkin, suatu saat koran akan benar benar masuk barang langka. Demikian juga dengan buku, jika tak ada upaya kreatif dan inovatif dalam dunia perbukuan bisa jadi lama kelamaanpun dunia perbukuan akan tereliminasi dalam revolusi industri. Nah, kalau begitu, harus dipikirkan berbagai cara agar dunia perbukuan tetap eksis bahkan makin eksis. Termasuk yang sudah dilakukan media guru @gurusiana ini, sangat bagus dan luar biasa sekali dalam menjaga eksistensi perbukuan dan dunia literasi pada umumnya. Btw, ada yang saya tanyakan atau mau saya usulkan kalau belum ada ya Pak: 1.Sudah ada e-katalog kah untuk buku buku terbitan media guru? Koq, saya cari cari disini belum ketemu ya, apa karena saya pendatang baru ya jadi belum menemukan, atau memang belum ada ya Pak? Kalau belum ada, mungkin akan sangat bagus kalau diadakan Pak, jadi bisa dibikin semacam link atau aplikasi olshop mungkin seperti bukalapak atau sejenis nya tetapi khusus yang berisi buku buku terbitan mediaguru begitu Pak? Jadi bagi para pembaca bisa lebih mudah jika ingin mencari buku referensi terbitan mediaguru. Bagi penulisnyapun, saya kira juga sangat bermanfaat, bisa menjadi wadah promosi buku tulisannya. Walau jelas harus ada kontrak, fee, biaya adm dll. Eh sudah ada belum ya, semoga sudah ada deh. 2. Komunitas mediaguru ini kan sepertinya partisipannya lumayan banyak, nah kalau mungkin usul dikembangkan sayap nya, diadakan semacam "media guru fondation", bisa jadi kan banyak juga yang berlebih dalam hal materi, kalau berbagi walau nominal nya mungkin "receh" tetapi digotong bareng bareng kan bisa juga jadi terkumpul lumaya besar. Yah bisa dialokasikan untuk banyak hal, mungkin sosial, beasiswa, atau juga pengembangan dunia literasi. Bahkan, kalau buku saya jadi terbit. Eh, bukan promo, wong saya belum pernah menulis buku sebelumnya, baru mau. Saya pribadi sangat mau, jika misalnya sebagian dari hasil penjualan bukunya bisa untuk disumbangkan, eh, padahal bukunya belum jadi, yah tapi minimal saya sudah ada niat deh. Kan kalau satu orang mungkin tak begitu berarti nominalnya, tetapi kalau banyak orang kan bisa jadi berarti juga kan, tetapi siapa nih yang mau dan bisa menggorganisir? Ya, tentunya dari dewan redaksi media guru sendiri yang bisa lebih banyak menggerakkan. Tetapi tetap fokus utamanya di dunia literasi. Waduh, koq komentar saya jadi panjang banget ya, kalau dijadikan tulisan kolom tersediri sudah bisa nih. Tetapi tidak tau, mumpung lagi ada ide bersliweran di kepala saya, biar tidak hilang, mohon maaf saya tuliskan disini. Mohon maaf, apabila ide dan saran saya kurang berkenan, kalau kurang pas ya abaikan saja. Terima Kasih Pak.

15 Mar
Balas

Mantap

15 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali